Lebaran di Rantau…

Yah, itulah hidup…, tahun ini jadi pengalaman pertama lebaran tak bisa berkumpul dengan keluarga besar. Benar-benar terasa ada yang kurang, ada yang hilang. Terasa sekali ketika takbir berkumandang, rasanya seperti benar-benar terasing. Dalam hati, berharap ini bukan lebaran, atau tepatnya saya gak pengin lebaran!

Memang budaya Indonesia Raya, merayakan lebaran dengan saling ucap maaf-memaafkan pada sanak famili, teman dan tetanga. Salah satu keunikan negeri ini memang. Tak ada yang lain selain di Indonesia Raya. Setidaknya itu kata teman saya yang kini bekerja di Abu Dhabi. Katanya, “lost the atmosphere,… lebaran di kampung halaman!”

Itu sebabnya budaya mudik lebaran hanya ada di negeri ini. Arus mudik dan balik, di semua penjuru negeri, semua jalan protokol, semua pelabuhan, stasiun, terminal dan bandara, dipenuhi rombongan pemudik! Tiap orang seakan tak peduli dengan sesaknya perjalanan, ramainya lalu-lintas, kemacetan berkilo-kilo meter panjangnya. Belum lagi harga tiket perjalanan yang melonjak tak karuan. Pemudik tak peduli dengan itu. Mudik adalah harga mati. Walau selalu menelan korban jiwa dan harta benda, mudik tetap jadi keharusan dan ritual tahunan yang tak boleh terlewat.

Lalu bagaimana dengan saya? saya kehilangan momen itu tahun ini. Yah, ungkin patut disesali tapi juga harus tetap disyukuri. Seperti kata pak Ustadz, sebenarnya bukan lebarannya yang dinanti tapi Ramadhannya. Kita terbuai untuk segera lebaran, segera mudik, seakan kita lupa esensi dari ramadhan. Bukan lebarannya tapi Ramadhannya! Memperbanyak amalan dan doa di bulan suci Ramadhan adalah yang utama, sehingga kita mampu jadi muslim yang bertakwa dan mendapat keutamaan di sisi Allah SWT, amin.

Patut disyukuri telah ada teknologi, semacam telepon, sms, internet. Seberapa jauhnya kita dengan keluarga, asal masih ada jangkauan sinyal telepon atau satelit, kita masih bisa berhubungan via teknologi-teknologi tersebut. Lupakan soal surat atau kartu pos ucapan lebaran, itu sudah super kuno.

Oh, kembali ke laptop! kembali ke judul! Soal lebaran di rantau, ternyata memang berat. Saya ingin segera masuk kerja saja, biar tak terasa galaunya tak bisa menikmati lebaran di kampung. Semoga rutinitas kantor bisa sedikit melenakan pikiran tentang mudik dan lebaran. Ya gak? Buat yang bernasib sama pasti sependapat. Awas kalo gak! Saya doain gak bisa pulang kampung lagi tahun depan lu!!!

Dan akhirnya hanya bisa berkata, “whatever lah, mau mudik lebaran apa gak, yang penting saya senang kamu senang, sampai ketemu lagi di ritual mudik tahun depan, aminnnn!!!”

“Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriah, Mohon Maaf Lahir Batin”

 

2 thoughts on “Lebaran di Rantau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s