Pertunjukan Lentera di Langit Idul Fitri

sky full of lighters
“balon?”

With my arms out wide, I open my eyes and now all I wanna see
Is a sky full of lighters, a sky full of lighters (by Jason Mraz)

“Pak buat balon yuk?”, rengek seorang bocah seumuran anak SD kepada bapaknya yang tengah sibuk nonton berita di tv. “Plastiknya ada tuh, besok kan sudah lebaran, jadi sekarang harus dibuat balonnya, biar bisa dinaikan bareng-bareng di Mushola besok.” Sang Bapak yang mulai luluh, akhirnya menjanjikan, “nanti malam ya, sekarang kamu tidur dulu, biar tidak mokel, batal puasamu nanti.”

Bocah itu adalah saya. Mungkin lima balas tahun lalu, rengekan seperti itu adalah hal klasik di kala Ramadhan. Rengekan akan makin gencar seiring mendekatnya Hari Lebaran.

Malam itu, malam takbiran, kami membuat balon dari plastik-plastik bekas. Plastik yang dikumpulkan Ibu sejak jauh-jauh hari. Beliau seakan tahu kalau putra tersayangnya, satu-satunya, akan merengek dibuatkan balon saat nanti mendekati hari lebaran. Aku dan bapaku, sudah sangat lihai dalam urusan membuat balon plastik ini. Berbekal lidi dan lilin kami menyambung satu demi satu plastik. Plastik diregang dengan bantuan lidi dan digabungkan dengan bantuan panas api lilin. Walaupun plastik-plastik tadi berbeda-beda besarnya, bermacam-macam ketebalannya, kami masih bisa merangkainya. Hasilnya, luar biasa, merah-biru-hitam-belang-putih-kuning, lucu tapi juga sungguh sangat menawan, elok sekali. Jadilah balon plastik beraneka warna. Entah karena senang membayangkan bahwa besok di hari lebaran aku bisa menaikkan balon ini bersama teman-teman di Mushola belakang rumah, atau karena rengekan berhari-hari itu telah kesampaian, sesuai janji Ayahku. Entahlah, yang jelas, aku senang, tak sabar kunantikan hari lebaran besok.

Momen seperti itu, lebaran di kampung halaman seperti itu yang selalu aku kenang. Kapan lagi? Mungkin tak akan ada lagi… karena budaya semacam ini tak lagi eksis. Budaya membuat balon plastik, menaikkannya bersamaan di mushola atau masjid. Serempak di masjid seluruh kampung seusai sholat Ied menaikan balon. Mulai dari ukuran kecil hingga sebesar Bus. Pagi hari di hari raya Idul Fitri, langit akan dipenuhi Balon-balon itu. Terus menerus selama seminggu, tak akan ada kalanya langit sepi dari balon. Bila malam hari, balon-balon yang diberi sumbu api agar terjaga tetap mengudara ini, akan tampak seperti ratusan lentera memenuhi langit malam. Mereka menyaingi cahaya gemerlap bintang dan terangnya cahaya bulan. Sungguh indah sekali lebaran di kampung halaman.

Tahun ini, Ramadhan dan Lebaran tak lagi kulewatkan di kampung halaman. Aku merantau. Hanya terhubung dengan telepon saja dengan Ibu. Ia tampak berusaha menahan air matanya jatuh, aku tahu meski hanya berbicara lewat telepon.Ucapan maafku tak bisa kusampaikan secara langsung di hadapan kedua orang tuaku. Seperti nasib balon-balon itu yang kini tak ada lagi, aku kehilangan momen lebaran di kampung halaman. Lebaran seperti lima belas tahun lalu itu. Saat Ibu meberikan setumpuk plastik bekas, bahan baku balon. Dan esok harinya, saat berlebaran, aku akan ambil bagian pada “Pertunjukan Lentera di Langit Idul Fitri”.

(tulisan ini untuk Ibu, Ayah dan Adik kecilku… semoga kalian selalu diberi kesehatan dan limpahan rahmat dari Allah SWT, maaf saya tak bisa sungkem  secara langsung tahun ini, insyaAllah tahun depan semoga bisa.)

2 thoughts on “Pertunjukan Lentera di Langit Idul Fitri

    1. bersyukurlah masih bisa pulkam (pulang kampung)…🙂 tahun depan saya bertekat buat pulkam, apapun yang terjadi, meski bos menghalangi…saya akan tetap pulang!!!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s