My Second Summit – Gunung Marapi (Mount Marapi) 2891 mdpl

Menuju Puncak Merpati
Menuju Puncak Merpati

Akhirnya diposting juga, walau sudah telat 4 bulan, tapi semoga ini tetap bisa jadi referensi dan motifasi buat yang mau naik gunung juga,🙂

Oke, here is the complete story of my second summit!

Rabu, 5 Juni 2013, pendakian kedua saya dimulai. Ini ceritanya beajar jadi MAMAPUPALA, MAntan MAhasiswa yang PUra-pura jadi Pecinta ALAm! hahaha. Dengan menumpang pesawat rute Batam-Padang, akhirnya kami, Saya dan masbro @T_TeguhPrasetio, akhirnya sampai di  Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang, Sumatera Barat. Setelah ini perjalanan akan ditempuh dengan jalur darat menuju Koto Baru, pintu masuk kami ke pendakian Marapi. Perjalanan ditempuh sekitar 3 jam dari BIM.

Kami sampai di Koto Baru sekitar pukul 8 malam, rencananya mau istirahat dulu dan baru mulai mendaki keesokan paginya. Karena memang terlalu beresiko untuk berangkat malam dengan hanya berdua. Tapi ternyata kami ketemu dengan rombongan teman-teman UNAND Padang, mereka berlima. Diantara kelima mahasiswa UNAND ini, salah seorang sepertinya sudah veteran di Marapi, beliau katanya hapal jalur, nah dari situ rencana pendakian dipercepat jadi malam itu juga!

Setelah mengisi kantong nasi masing-masing (baca: perut), membeli beberapa perbekalan di warung terdekat dan istirahat sejenak, kamipun memulai perjalanan. Dari tempat pemberhentian tadi, tepatnya di dekat pasar Koto Baru, ternyata pos pendaftaran mendaki masih kurang lebih satu jam jalan kaki. Andaikan ini pagi, bisa saja numpang mobil sayur, tapi karena ini jam 09.30 malam, yasudahlah pasrah saja… hahaha.

Sejam jalan kaki ternyata menguras tenaga juga, napas saya sudah mulai kacau. Dengan tas carrier seberat lebih dari 12 kg, rasanya kok makin tambah berat aja. Maklum ini pertama kalinya saya bawa beban segitu naik gunung. Yang pertama dulu cuman bawa daypack, hehehe… maklum newbie,🙂

Di pos pendaftaran kami istirahat sejenak, sholat isya’ dan cek kelengkapan. Pendaki yang baik jangan melupakan sholat ya! hehehe. Pos ini biasa disebut juga pos pemancar, karena disitu ada tower telepon celular.

Setelah dirasa cukup istirahatnya, walaupun saya merasa kurang, karena memang belum benar-benar istirahat dari pertama sampai di bandara tadi, fiuhhh, kami lanjut ke pintu rimba.  Sekitar setengah jam jalan, kami pun sampai. Tapi entah kenapa rasanya saya benar-benar kecapaian. Kepala mulai pusing dan keringat dingin mengalir, bahaya!

Saya sempat meminta ijin untuk tinggal di pos saja dan melanjutkan perjalanan sendiri keesokan harinya, tapi ternyata masbro dan teman-teman UNAND dengan berbaik hati memilih menunggu saya pulih daripada meninggalkan saya sendiri di pos, benar-benar pendaki sejati. *terharuu*

temen-temen UNAND (berdiri), masbro teguh (depan) dan saya di pojokan...
temen-temen UNAND (berdiri), masbro teguh (depan) dan saya di pojokan…

Hampir 45 menit kami istirahat di pos pintu rimba, cukup lama…hahaha. Sebelum mulai jalan lagi, melihat keadaan saya yang agak mengkhawatirkan ini, dengan sangat baik hati, teman-teman UNAND berkenan untuk share weight dengan saya…alhamdulillah. Kalau dilihat dari pakaian dan tas mereka mamang sebenarnya mereka tidak terlalu membawa banyak beban. Mereka tipe anak STM banget, sendal jepit, celana jeans, jacket tipis dan senter tangan, sudah itu saja, setelah sampai puncak mereka pasti langsung pulang, gak pake nge-camp. Sederhana sih, tapi bahaya juga, soalnya gunung itu gak bisa diprediksi cuacanya, iya kan?

Karena beban bawaan cukup banyak berkurang dan istirahat lama, saya kini kembali TEGAR! hahaha, lanjotttt!

Perjalanan malam sepertinya menguntungkan bagi saya karena tak harus melihat gilanya medan yang dilalui, jadi secara psikologis akan terasa lebih cepat sampai. Tipikal gunung-gunung di sumatera dengan bentuk tracking tangga akar, tak terasa saja dilalui, kecuali bagi salah seorang  teman dari UNAND. Dia sepertinya kecapaian dan agak kesulitan dengan celana jeans ketatnya, alhasil mulailah keram dan kesemutan. Saya sih oke-oke saja banyak istirahat, toh saya juga capek, tapi buat masbro sepertinya ini gak sesuai planning. Dia berencana untuk bisa dapat sunrise di puncak pagi itu, jadi kami harus sampai ke tempat camping di cadas dalam waktu 4 jam dari pintu rimba, atau sekitar pukul 03.30 pagi. Tapi kami baru sampai cadas jam 4.30 lewat. Dengan perjalanan ke puncak makan waktu sekitar 1 jam, sunrisepun dipastikan lewat, hahahaha. Ya sudahlah, kami masih bisa mengejar sunrise esok hari.

Jalur pendakian ke puncak mamang biasa memakan waktu 5 jam sampai ke cadas dan 1 jam ke puncak, tergantung napas masing-masing. Jalur di awal pendakian masih terbilang datar sebelum disambut tangga akar tanpa bonus, nanjak terusss! Sebelum puncak, ada beberapa tempat terkenal yang jadi patokan pendakian  kita benar apa nyasar, diantaranya Jembatan BambuLubang Mancik (Terowongan Tikus), Batu Lumuik (Batu Lumut), Pintu Angin (tempat mata air), Cadas, dan Tugu Abel.

Di cadas kami berpisah dengan rombongan UNAND, mereka langsung naik ke puncak, sedang saya dan masbro memilih untuk tidur dulu di tenda sebelum muncak. Mata memang sudah tak tertahankan lagi ngantuknya…

sekitar jam 8 pagi, kami ke puncak. Trek ke puncak Marapi ini berupa batuan cadas agak berpasir, terus begitu sampai puncaknya nanti, tipikal puncak gunung berapi. Yang menarik ada hamparan pasir luas setelah tugu abel tepat sebelum puncak nanti, orang biasa menyebutnya dengan Lapangan Bola, dan hanya ada di Marapi katanya,🙂

trek batu cadas, dan view kota Bukit Tinggi di kejauhan
trek batu cadas, dan view kota Bukit Tinggi di kejauhan
Tugu Abel
Tugu Abel
Lapangan Bola, Gunung Marapi
Lapangan Bola, Gunung Marapi

Dan akhirnya…Puncak Merpatiii!!! puncak tertinggi Marapi dengan ketinggian 2891 MDPL, Alhamdulillah!

Menuju puncak merpati
Menuju puncak merpati
Di Puncak Merpati, Gunung Marapi
Di Puncak Merpati, Gunung Marapi

Dibalik tempat camp kami, ada taman edelways, luas banget. Ada tempat untuk camp juga di situ, tapi tidak direkomendasikan, kareana tempatnya cukup terbuka, bahaya bila ada badai angin dan juga gas luapan Marapi sering mengarah kesitu. Ada juga jalur pendakian tak resmi di sisi ini.

taman edelweiss di puncak Marapi
taman edelweiss di puncak Marapi
Padang Edelweiss
Padang Edelweiss

Dari puncak merpati kita bisa melihat kawah Marapi, ada beberapa lubang, tapi hanya kawah utamanya saja yang sekarang sering meletus. Gunung ini adalah salah satu gunung paling aktif di sumatera. Dari situ pula kita bisa melihat danau Singkarak, gunung Singgalang dan juga gungung Tandikat. Gunung Singgalang sebenarnya tujuan kami di pendakian ini, tapi karena kabar cuaca buruk di puncaknya selama beberapa hari ini, kami mengalihkan ke Marapi. Masih pula dari puncak Merpati tampak juga gunung Kerinci di kejauhan, target selanjutnya, aminn. hehehe.

kawah utama Marapi
kawah utama Marapi
view danau singkarak
view danau singkarak
Singgalang dan Tandikat
Singgalang dan Tandikat

Setelah puas narsis di atas puncak Marapi, kamipun turun ke tenda, ini waktunya ISHOMA, istirahat sholat makannn! Siapkan energi untuk besok pagi summit lagi mengejar sunrise.

Walau paginya gak dapet sunrise, tapi sore yang cerah memberi kami sunset luar biasa. Awesome!

Sunset di atas Gunung Singgalang
Sunset dan Gunung Singgalang, diambil dari tempat camp di Cadas

Keesokan paginya, yang tak diinginkan datang juga, BADAI! Badai tak berhenti sepanjang subuh mamaksa kami batal mengejar sunrise di Puncak Marapi. Setelah di pendakian pertama di gunung Lawu gagal sunrise di puncak, ternyata yang kedua ini juga gagal, hadehhh. Tapi minimal saya sudah merasakan puncaknya, patut disyukuri.

Setelah beres-beres dan sarapan, kini saatnya turun gunung. Masih pingin sebenarnya mencoba sunrise besok pagi, tapi agenda padat keliling sumatera barat akan terganggu kalau masih maksa nyari sunrise. Oke, gak papa, masih ada lain waktu di gunung berikutnya kan?🙂

Pas turun inilah saya baru tau kalau trek pendakian ini ngeri juga,…hanya karena kemarin naik malam hari jadinya gak kerasa. Susahnya trek bisa dibayangkan dari foto-foto berikut ini. Semua foto di bawah diambil oleh masbro @T_TeguhPrasetio, salut lah buat stamina beliau yang masih sempet ngambil foto waktu turun dari puncak Marapi.🙂

This slideshow requires JavaScript.

Sampai jumpa lagi Marapi, trimakasih atas sambutannya,🙂

Salam Traveller!

2 thoughts on “My Second Summit – Gunung Marapi (Mount Marapi) 2891 mdpl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s