Segara Anakan Jauh di Bawah

My Fifth Summit – Singgasana Dewi Anjani, Mount Rinjani 3726 mdpl

SUNSET

Hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
Terimalah, dan hadapilah

(Mandalawangi-Pangrango, by Soe Hok Gie, 1966)

Penggalan puisi karya Soe Hok Gie diatas sepertinya cocok menggambarkan perjuangan kami menggapai puncak Rinjani. Sebuah ketidak pastian akan puncak dengan seribu satu PHP-nya. Seperti yang Gie bilang, “Terimalah, dan Hadapilah!” Dengan kepasrahan dan usaha, puncak yang sepertinya tak kunjung sampai itu akhirnya terjejaki juga. Kami berhasil berdiri di Singgasana Dewi Anjani, puncak Rinjani, 3726 meter di atas permukaan laut!

Sedramatis itu kah? hahaha, sebenarnya nggak juga, want to know why?🙂

Begini ceritanya, saya menggunaka cara “mudah” untuk pendakian ini, yaitu dengan menyerahkan segala keperluan kepada porter. Saya menyewa jasa 2 orang porter yang sekaligus jadi pemandu saya dan sekaligus juga mengurus masalah logistik dan tenda, bahkan mengantarkan kami sampai ke puncak! Saya kagum dengan stamina dan dedikasi mereka terhadap pekerjaan berat ini, yang mungkin menurut saya imbalannya tidak seberapa dibanding dengan resiko dan beratnya pekerjaan. Berkat jasa mereka, pendakian ini tidak terlalu menyiksa bila dibandingkan dengan pendakian saya yang lain sebelum ini, hahaha.

Saya mau cerita sedikit tentang kenapa saya kagum dengan para porter rinjani dan seperti apa pekerjaan mereka. Para porter ini harus sanggup memanggul beban sampai 30 kg dan kadang lebih. Diantara mereka masih ada yang berumur belasan tahun dan tidak sedikit yang sudah melewati umur kepala lima! Dengan kakinya yang kuat tapi lincah, mereka melomat dan memanjat tebing-tebing terjal Dalam posisi yang hampir akrobatik dan dengan beban seberat itu mereka masih bisa menjaga keseimbangan dengan baik. Nafas mereka seperti kuda pacuan yang sepertinya tak kenal lelah. Minat mencoba mengangkat panggulan beban mereka? Saya sudah mencoba, dan baru beberapa langkah saya sudah menyerah… hahaha. Mungkin saya memang lemah,😦

OK, kembali ke laptop!

Pendakian Rinjani ini adalah salah satu agenda saya di goes to the east, mulai dari Lombok sampai Flores, yang cerita lengkapnya sedang dalam tahap penulisan, hahaha. Dan pendakian ini juga salah satu agenda utama saya di tahun 2014. So, here is the story of my team tracking on Rinjani.

2 Agustus, adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di tanah Lombok, dan besoknya saya akan kangsung menuju puncaknya, Rinjani! Setelah seharian dimanjakan dengan pantainya, lembah-lembahnya, jalannya yang berliku dan keramahan suku sasaknya, saya bergegas ke Sembalun. Desa itu adalah titik awal pendakian kami.

3 Agustus, setelah semalam kami menginap di rumah pak Suketi, porter kami, pagi ini kami bergegas menuju pos daftar. Nama peserta pendakian, umur dan lama pendakian harus kami bubuhkan di buku registrasi. Nampaknya saya tidak sendirian, saya bertemu beberapa rombongan lain yang akan memulai pendakian di hari itu. Dan seperti perkiraan saya, pedakian bulan Agustus memang salalu ramai.

Yang membuat Rinjani ramai pendaki dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Indonesia adalah karena tidak hanya wisatawan lokal saja yang menginginkan puncaknya dan keindahan alam di sekelilingnya. Gunung ini benar-benar magnet bagi wisatawan, terkenal hingga ke luar negri. Tak heran kalau separuh dari total pendaki atau bahkan lebih, adalah orang asing. Mereka datang diantaranya dari Asia Timur, Amerika, Eropa, dan tentunya Australia yang menjadi paling dominan. Mungkin hanya Afrika yang tidak saya temui kala itu.🙂

Rute kami untuk pendakian ini adalah rute umum yang cukup maistream, yaitu jalur Sembalun dan SenaruMengingat 2 diantara 5 orang di rombongan saya belum pernah sekalipun naik gunung, jadi kami tidak mau ambil resiko. Tapi salut buat keberanian dan tekad kalian.

Pendakian dimulai dari Bawah Naung (Sembalun) kemudain akan melewati beberapa pos, bukit penderitaan dan kemudian sampai di pelawangan sembalun. Dari pelawangan sembalun lanjut menuju puncak, lalu turun ke segara anak, naik lagi ke pelawangan senaru, kemudaian baru turun melalui jalur lain ke arah Senaru. Gampang kan? kelihatannya sih begitu, tapi itu kelihatannya saja. Kenyataannya kami benar-benar harus berjuang melewati itu semua selama 4 hari!

(click picture to enlarge)

4 Agustus 2014, ini akan jadi hari bersejarah untuk saya, karena kainginan saya bertahun-tahun akhirnya terwujud. Terimakasih kepada porter yang membawakan logistik dan tenda sehingga mengurangi beban kami. Dan terimakasih kepada teman-teman karena mempercayai saya menyusun itinerary. Serta kepercayaan mereka mengikuti keegoisan saya mendaki gunung, menyisipkan kegiatan ekstrim ini di paket liburan mereka ke Lombok. Mungkin ini juga karena saya berhasil membual kepada kalian tentang indahnya Rinjani, hahaha. Tapi kini kalian membuktikannya sendiri, dan kalian pasti akan setuju dengan bualan saya itu.

Ketika kaki kalian menjejak puncak, wajah letih, haus hingga ke tenggorokan, dan terik matahari tak akan terasa lagi. Kebanggaan dan kebahagiaan kalian mengalahkan semua itu. Welcome to the heaven on the earth! Second highest volcano mountain in Indonesia, 3726 masl, Dewi Anjani’s Palace!

5 Agustus, saya terbangun di ketinggian 2.008 mdpl, di tempat impian para pendaki Rinjani, Segara Anakan. Sebuah danau yang awalnya adalah kawah gunung Rinjani. Di tengahnya kini muncul gunung Baru Jari yang masih aktif dan mengepulkan asap. Jujur ini adalah sebuah pemandangan yang luar biasa!

Kabut pagi yang dingin tak menghalangi saya untuk menjelajahi pinggiran danau ini. Saat teman-teman saya memilih untuk stay di tenda degan segelas teh hangat, saya sudah menenteng kamera, tak ingin kehilangan golden hour demi mengabadikan keindahan Segara Anakan dan gunung Baru Jari-nya. Dan ada satu lagi alasan lain untuk menjelajahi segara anakan, saya ingin ke sebuah lokasi yang sepertinya bisa jadi tempat relaksasi paling mahal, kenapa bisa begitu? Karena ini adalah sebuah sungai dengan air hangat yang terus mengalir dan berada di alam terbuka! tapi tenang, ini super free! Letaknya yang tersembunyi di sisi lain Segara Anakan, membuatnya menjadi surga istimewa di gunung Rinjani!

Sore harinya, ada keindahan lain yang harus kami kejar. Kami paksakan semua sisa tenaga untuk menjangkau pelawangan senaru. Dari danau Segara Anakan kami harus mendaki lagi untuk sampai disana. Damn! Tempat di ketinggian 2.641 mdpl itu punya sunset dan sunrise yang sangat luar biasa. Dan nyatanya usaha kami terbayar. Ini sunset terindah yang pernah saya lihat. Kalau orang bilang kita harus ke pantai untuk menemukan sunset terbaik, bagi saya itu salah. kalau kamu ingin tahu sunset terindah, datanglah ke pelawangan senaru!

6 Agustus, saatnya bergegas turun gunung menuju Senaru. Kalau saja waktu mengijinkan, saya masih ingin berlama-lama di Rinjani. Tapi kisah perjalanan ini harus tetap belanjut, karena tempat tujuan saya berikutnya tidak kalah indahnya. Sebuah tempat titipan Ilahi kepada penghuni bumi, surga di timur Indonesia.🙂

Mendaki gunung itu memang seperti kata Soe Hok Gie, tinggal “terimalah dan hadapilah”, dan semua lelah itu nantinya akan terbayar. So, kapan mau ke Rinjani?

 

Thanks to Gunawan and Acap for your awesome photo and video. Tami dan Renny untuk kesabarannya sampai di puncak. Pak Suketi dan keluarga untuk tumpangan nginab semalam dan bantuannya sebagai porter kami. Semoga kita bisa ke Rinjani lagi.

Untuk yang ingin mencoba mendaki Rinjani, silahkan lihat rincian itinerary kami di bawah. Mungkin masih jauh dari sempurna, tapi semoga tetap bisa membantu. Paling tidak memberi sedikit gambaran tentang bagaimana caranya untuk melakukan pendakian “ceria” di Gunung Rinjani,🙂

Selamat Mendaki,🙂

RINCIAN WAKTU NAIK  – TURUN

Pos Daftar Sembalun – Bawah Naung (dengan pick up) : 10 menit

Bawah Naung – Pos  1 : 1 jam

Pos 1 – Pos 2 : 45 menit

Pos 2 – Pos 3 : 1 jam 30 menit

Pos 3 – pelawangan sembalun : 5 jam

Pelawangan Sembalun – Puncak : 7 jam

Puncak – Pelawangan Sembalun: 3 jam

Pelawangan Sembalun – Danau Segara Anak:  5 jam

Danau Segara Anak – Pelawangan Senaru : 6 jam

Pelawangan Senaru – Pos Senaru : 8 jam

 

ITINERARY:

Hari Pertama (2 Agustus 2014)

KL – Lombok Praya (Via Air Asia AK-486 :  06.50 – 09.40)

Prepare Logistik di Indomart dekat bandara

Trip to Kampung Sasak Lambitan, Pantai Mandalika (kute), Tanjung Aan, View Point

Lanjut ke Sembalun (17.00 – 22.00). Di Sembalun  rehat & bermalam di rumah porter.

 

Hari kedua (3 agustus 2014)

09.00 – start pendakian dari Sembalun, via Bawah Naung (sewa pick-up Rp. 100.000 ke Bawah Naung)

11.00 – sampai pos 1

11.45 – sampai di pos 2, break dan makan siang

14.00 – sampai di pos 3, ( 9 bukit penyiksaan )

16.00 – sampai di pos 4, ( 9 bukit penyiksaan )

19.00 –sampai plawangan sembalun (camp di plawangan sembalun)

 

Hari ketiga (4 agustus 2014)    

01.00 – harusnya kami mulai start pendakian ke puncak, tapi karena hujan, kami harus menunggu hingga 2 jam sampai hujan reda

03.00 – start pendakian ke puncak

05.00 – sunrise di tengah jalur pendakian puncak… masih panjang perjalanan,…dan kami mulai lelah… hahaha

10.00 – sampai di puncak Rinjani (3726 mdpl)

11.00 – turun ke plawangan sembalun

14.00 – sampai di plawangan sembalun

14.00 – istirahat dan makan siang

15.00 – turun ke danau segara anak

20.00 – sampai di danau segara anak (camp di segara anak), sangat tidak dianjurkan turun ke segara anak dalam kondisi gelap, karena jalan licin dan terjal. Untung saja kami tidak nyasar, karena sebenarnya porter meninggalkan kami, karena harus bergegas untuk mendirikan tenda, hiks.

 

Hari ke empat (5 agustus 2014)

06.00 – sunrise, packing, sarapan, berendam air panas

10.00 – start dari danau segara anak ke plawangan senaru

13.00 – sampai di Batu Ceper

16.00 – sampai di plawangan senaru (camp di pelawangan senaru)

 

Hari ke lima (6 agustus 2014)

06.00 – 08.00 sunrise, packing, sarapan

11.00 – sampai pos 5 senaru

11.30 – sampai pos 4 senaru + rehat makan siang (masuk hutan rimba/tropis)

13.30 – sampai pos 2 senaru (no camp dan berlama-lama disini karena mistis/angker)

14.30 – sampai pos 1 senaru

16.00 – sampai gerbang pendakian senaru (ada warung kecil)

16.30 – sampai di desa senaru / pos registrasi senaru

17.00 – lanjut ke penginapan di Senggigi dengan mobil carteran

 

Hari ke Enam (7 Agustur 2014)

06.00 – Dari Senggigi ke Labuhan Lombok kita GOES TO KOMODO!

 

#BUDGET KELOMPOK#

*LOGISTIK –> Rp. 250.000 (5 orang + 2 porter) untuk 4 hari

*PORTER –> Rp. 200.000/day. Porter pertama dari sembalun sampai senaru, total 4 hari. Porter kedua hanya dari sembalun ke plawangan sembalun, total 2 hari. Biaya tambahan Rp. 100.000 untuk memandu ke puncak. Total pengeluaran untuk jasa porter adalah 1,3 jt. Kalau di bulan-bulan sepi pendakian, biaya porter harian hanya Rp. 150.000/day.

*Sewa tenda dan peralatan memasak –> Rp. 600.000. Pendirian dan pembongkaran tenda dikerjakan porter. Mereka juga membawa tenda (terpal) untuk mereka sendiri. Urusan masak-memasak juga di kerjakan oleh porter.

*TRANSPORT PP –> RP. 1.200.000. Dijemput di bandara, trip keliling lombok, diantar ke Sembalun, dijemput di Senaru, dan diantar ke penginapan di Senggigi.

*REGISTRASI –> RP. 5.000. hari/orang. Walaupun sebenarnya pendakian ini memakan waktu 4 hari, tapi bilang saja 3 hari.🙂

That’s all, minat?

 

 

 

 

 

 

One thought on “My Fifth Summit – Singgasana Dewi Anjani, Mount Rinjani 3726 mdpl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s