kedai kopi kok tong

Sensasi Kopi dan Danau Toba

Danau Toba

Dilihat dari jauh gak menarik,

Warnanya juga gitu-gitu aja,

Bayangin aja udah gak enak,

Pertama kali nyoba pasti kaget,

Tapi lama-lama enak juga,

Hitam, pahit, manis… sruput dulu kopinya!

(puisi kopi gak jelas by saya)

Satu dari sekian banyak alasan saya mengunjungi Sumatera Utara adalah karena kopi, walau saya bukan pecinta kopi, tapi bisa dikatakan saya pengagum sensasinya, aromanya dan efeknya, buat nonton bola, hahaha.

Setelah seminggu menyiapkan itinerary dadakan, dengan banyak hal yang belum beres dan gak tau mau gimana nantinya, seperti gak tau naik apa, jam berapa, apa ada angkutan umum, mau nginap dimana, dan ada makanan halal gak nanti? Semuanya masih gelap, seperti warna kopi, impulsif aja kita ke Kuala Namu, nyampe sana nanti baru mikir dah, hahaha. Saya biasanya gak mau nih nge-trip model begini, tapi ya itu tadi namanya juga kopi, kalau gak di coba gak akan tau, nikmati saja sensasinya! 

Travel booking dadakan kami yang penuh sesak meluncur menuju Tigaraja, pelabuhan penyeberangan ke Pulau Samosir. Memakan waktu perjalanan sekitar 6 jam, perjalanan yang bisa saya bilang cukup luar biasa menegangkan, bukan karena jalanannya yang berkelok-kelok di tepian jurang, bukan juga karena sensasi balapan ‘sopir medan’-nya, tapi ini jauh lebih greget. Saya gak tau gimana kejadiannya (karena saya tidur sepanjang perjalanan, hehehe), tapi pas saya bangun, mobil kami dihentikan paksa oleh mobil lain (dengan cara diserempet), setalah itu munculah adegan adu mulut, peludahan, tamparan, dan hampir pemukulan. Kamvret moment lah ini, saya dan dua orang temen saya yang meringkuk di bangku belakang xenia gak bisa berbuat apa-apa, atau lebih tepatnya gak mau ikut-ikutan, hahaha. Beruntung di antara penumpang yang kebanyakan ibu-ibu, ada satu orang bapak-bapak berbadan kekar yang walau dengan setengah hati berusaha melerai pertikaian antar supir ini, sehingga tak berlanjut ke kondisi lebih ekstrim. Well, salam pembuka yang luar biasa, ini Medan bung!🙂

Sampai di Tigaraja kami langsung menyebrang ke Tuktuk, untungnya cukup mudah menemukan kapal untuk menyeberang, bahkan mereka punya jadwal on-time pemberangkatan tiap kapal. Target kami di hari pertama sebelum gelap adalah penginapan, sewa motor dan go show “silaturahmi” dengan sigale-gale di Tomok.

Hari kedua, tanpa menyia-nyiakan waktu, walau belum sarapan, ngantuk dan kedinginan (ini beneran dingin, ternyata berguna juga bawa jaket tebal yang awalnya cuman menuh-menuhin tas), motor kami pacu menuju Ambarita, dengan satu tujuan saja, Batu Kursi Raja Siallagan. Dimana tempatnya itu? gak tau, pokoknya jalan aja dulu, hahaha. Oiya, pernah denger rumor kalau orang samosir dulu kanibal? nah ini kami mau membuktikan benar apa gak, karena jawabannya ada di situs batu kursi ini. Ternyata tempatnya gak jauh, sempet nyasar sih dikit, tapi yang penting ketemu,🙂

This slideshow requires JavaScript.

Itu tongkat (replika) yang ada di foto katanya adalah tongkat sakti untuk menghukum terdakwa tindak kejahatan berat, setelah diadili di batu kursi. Tongkat ini berfungsi untuk menghilangkan ilmu kebal yang dimiliki terdakwa. Setelah hilang ilmu kebalnya, lalu baru dihukum pancung. Dari yang dituturkan guide-nya, hati dan jantung terdakwa ini akan dibagikan ke raja dan masyarakat yang hadir, katanya untuk menambah kekuatan dan kesaktian,… agak serem ya…ini nih awal cerita kenapa dibilang dulu orang samosir itu kanibal. Bener tidaknya cerita ini… hanya mereka dan Tuhan yang tau…

kedai kopi kok tongMenjelang siang, kami bergegas meninggalkan Samosir, walau belum puas sama sekali, tapi kunjungan singkat ini benar-benar menghapus memori kejadian “supir travel” di hari pertama yang sempat membuat mood kacau. Dan, untuk lebih mencairkan suasana, kami sepakat untuk berburu kopi yang katanya legendaris sekali di Pematang Siantar. Tentu saja, seperti biasa, kami gak tau dimana tempatnya! hahaha

Setelah berkeliling gak jelas di kota Siantar, kami berhasil menemukan kedai kopi Kok Tong. Letaknya yang agak masuk ke dalam gang cukup membuat bingung orang-orang macam kami yang belum pernah sekalipun ke Siantar. Kopi Kok Tong ini katanya sudah ada sejak jaman Belanda, dan mampu tetap bertahan ditengah banyaknya merk kopi baru dengan tetap menjaga rasa dan ke-khas-annya. Di kedai ini, kopi biasa disajikan bersama roti ganda, apa itu roti ganda? silahkan googling aja ya, hehehe. Gak usah berlama-lama, hayuk sruputtt dulu kopinya,🙂

Walau masih pingin menikmati kopi sambil duduk santai, itinerary mepet kami tak mengijinkan bersanatai terlalu lama, dan kamipun akhirnya lanjut menuju Tongging. Transportasi dari Siatar ke Tongging yang berhasil kami temukan adalah minibus dan travel. Karena waktu sudah mepet jadi kami pilih travel. Agak sedikit mahal sih, tapi ya sudahlah, udah capek dan males mikir lagi soalnya. Di Tongging kami harus berburu penginapan, jadi gak ada cerita buang-buang waktu di jalan.

Setelah semalam bersantai di penginapan (Kalau tidak salah namanya Roman Sinasi, recommended  banget lah tempatnya), esok paginya kami bergegas ke target berikutnya yang jadi alasan kami ke Tongging. Dan inilah alasannya, air terjun Sipiso-piso!

This slideshow requires JavaScript.

Hari ketiga, target kami harus sampe di Medan sebelum gelap. Kali ini dengan rute yang berbeda dan tak lagi menggunakan travel, sekalian berhemat. Karenanya angkutan umum yang jadi pilihan, jurusan Tongging-Kabanjahe-Brastagi-Medan. Di Medan, tujuan kami adalah Istana Maimun dan Masjid Raya (yang ternyata berdekatan). Sebenernya pingin ke Merdeka Walk juga, tapi kami memutuskan malamnya untuk berburu oleh-oleh, dan ke Merdeka Walknya besok pagi saja. Sialnya, ternyata Merdeka Walk ini baru bukanya malem, dan kami sudah pasti terlewat karena pesawat kami sore, yah…, maybe next time.

This slideshow requires JavaScript.

Dan akhirnya perjalanan impulsif ini harus sampai disini, walau sebenernya masih banyak yang belum dan pingin dikunjungi. Ada kesan aneh memang dengan cara travelling seperti ini, serba mendadak dan serba kebetulan. Tapi uniknya malah seru, karena kami tidak tau apa yang akan terjadi. Ada sensasi deg-degan, panik, campur happy, hahaha. Jadi, kapan ke Danau Toba (lagi)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s