ABC welcome board

8 Hari Trekking Annapurna Base Camp (ABC) via Poon Hill

Tribhuvan International Airport
Air Asia – Tribhuvan International Airport

Namaste,Welcome to Nepal“, sapa pramugari Air Asia setelah pesawat berhasil mendarat dengan selamat di cuaca yang agak menyeramkan karena hujan lebat mengguyur Tribhuvan International Airport, Kathmandu-Nepal.

Preparation Day 1

Setelah beradu cepat untuk turun pesawat dengan orang-orang Nepal, yang entah kenapa semua terburu-buru, kini saya berada di antrian Visa On Arrival (VOA) dengan lusinan bule. Pengurusan VOA ini cukup simple, hanya perlu mengisi lembar data diri dan lembar permohonan visa, dan kita tinggal antri. 25 menit kemudian VOA jadi, 25 USD sebagai maharnya.

Begitu keluar dari bandara, supir-supir taksi langsung berdatangan. Karena cuaca yang kurang mendukung, kami susah untuk bernegosiasi dengan supir-supir ini. Akhirnya 700 NPR menjadi harga kesepakatan kami. Harusnya sih bisa dapat 400-500 NPR, tapi ya… it’s the best we can do today. (Kurang lebih 1 NPR = 124 IDR).

Taksi mungil khas Inspektur Vijay di film india ini langsung meluncur menyusuri jalan-jalan sempit Kathmandu. Kalau melihat taksi ini, kita seperti terbawa ke tahun 80-an di Indonesia, mobil sedan mungil dan terkesan antik. Dengan ke-antikannya, saya meragukan AC mobil ini masih berfungsi, tapi karena memang sudah dingin, jadi tidak perlu. Bay-the-way diluar hujan air bercampur butiran es! hahaha

Ditengah guyuran hujan, kami langsung meluncur ke Manang Plaza, sebuah plaza yang lebih mirip ruko. Di tempat ini kami harus mencari kantor TAAN (Trekking Agencies’ Association of Nepal) dan melakukan registrasi kegiatan trekking kami untuk memperolah kartu TIMS (Trekkers’ Information Management System). Sebenarnya kami berharap untuk sekalian melakukan registrasi trekking di kawasan Annapurna untuk memperolah kartu ACAP (The Annapurna Conservation Area Project), tapi ternyata itu harus dilakukan di tourism board Phokhara.

Setelah TIMS beres, kami bergegas mencari Aloobar 1000, hostel yang sudah kami boooking beberapa minggu sebelumnya. Walau sebenarnya dekat, hujan deras menyulitkan kami mencari tempat itu, ditambah lagi dengan tas carrier segede gaban. Untungnya kami mendapatkan petunjuk dari sebuah mobil yang melintas bertuliskan Aloobar 1000. Setelah dibuntuti, ternyata mobil tadi masuk ke gang sempit, benar saja backpacker hostel ini tersembunyi di ujung lorong.

Aloobar 1000 backpacker hostel
Aloobar 1000 backpacker hostel

Tempat ini dipenuhi bule, kebanyakan traveler gila dengan masa perjalanan sekitar 1 tahun atau bahkan tak terbatas waktu. Memang tempat ini nyaman, murah dan tenang. Cocok untuk backpacker. Ruang makan yang walau tidak terlalu luas, tapi cukup hangat, menjadi lokasi paling nyaman untuk ngobrol dan berbagi cerita. Kami telah memutuskan untuk kembali lagi kesini nanti setelah selesei trekking di Annapurna. Untuk hari ini kami hanya menginap semalam saja.

 

Preparation Day 2

07.00 pagi kami langsung cabut ke perhentian tourist bus tak jauh dari Aloobar 1000. Dengan tiket yang telah kami beli kemarin malam kami tak perlu lagi tawar menawar. 800 NPR, 8 jam perjalanan, bus tanpa AC, dan suspensi keras. Welcome to Phokhara.

Target pertama kami adalah Tourism Board untuk memeperoleh kartu ACAP. Lagi-lagi untuk menemukan tempatnya perlu perjuangan. Berbekal kitab suci Lonely Plannet kami berjalan kaki dari bus station Phokhara. Walau sempat nyasar tapi akhirnya ketemu juga tempatnya agak tersembunyi memang…

ACAP & TIMS
ACAP & TIMS

ACAP beres sekarang tinggal mencari penginapan dan sewa perlengkapan trekking. Phokhara boleh dibilang adalah kota tujuan wisata backpack, jadi lumayan gampang mencari penginapan murah. Lake Side, salah satu daerah di Phokhara yang terkenal penuh turis dan penginapan berbagai kelas jadi tujuan kami. Berbekal info dari pemilik tempat makan halal (susah cari tempa makan halal di Nepal) yang kami singgahi, kami mendapatkan hostel yang sangat murah, 600 NPR semalam, sekamar untuk 3 orang.

Menjelang malam kami bergegas mencari penyewaan peralatan trekking, kami harus buru-buru sebelum toko-toko tutup. Perlengkapan macam jaket tebal dan sleeping bag sengaja tidak bawa dari Indonesia karena hanya akan memenuhi tas, lagian kami tidak beli bagasi di pesawat, ngirit. Tempat penyewaan peralatan trekking disini ternyata tidak sebanyak di Kathmandu. Setelah berkeliling beberapa saat, kami hanya menemukan 2 toko yang menyewakan peralatan trekking. Harga sewa tak bisa ditawar dan flat di kedua tempat itu. 100 NPR per-hari untuk masing-masing jaket dan sleeping bag (ini barang mungkin tak terpakai karena di setiap lodge biasanya disediakan selimut tebal, tapi untuk jaga-jaga akhirnya tetap kami sewa). Dengan begini semua sudah OK, mulai dari TIMS, ACAP dan perlengkapan. Kami siap untuk trekking besok pagi!

Start point trekking kami adalah Nayapul, yang awalnya kami kira dekat dari Phokara ternyata jauh, 55 km! Untuk 1600 NPR harga taksi yang kami pesan akhirnya tak lagi kepikiran. Walau sempat gak yakin dengan harga itu, tapi setelah mengalami jauhnya dan jalannya yang berlubang-lubang, kami anggap harga itu cukup fair.

Nayapul, titik pertama trekking ini hanya sebuah persimpanan jalan kecil tak beraspal. Beberapa rombongan trekker lain juga berkumpul di tempat itu, hampir bersamaan datangnya dengan kami. Bedanya kami sendirian, solo trekker, sedang mereka bersama porter dan guide. Setelah kami sempatkan sarapan dengan sepiring nasi goreng, rasa kari tentunya, trekking ke ABC dimulai, bismillah!

 

TREKKING DAY 1

Prayer Bridge
Prayer Bridge

Desa pertama yang kami lewati adalah Birethanti. Pos untuk registrasi ada di desa ini. Terletak di dekat Prayer Bridge, sebuah pos kecil dengan 2 orang penjaga. Prayer Bridge sendiri cukup mencolok, dengan lembaran kain doa warna-warni seperti bendera-bendera kecil tergantung hampir di seluruh batang truss jembatan baja ini. Setelah ini tujuan kami adalah Hille kemudian Tikhedhunga dan target hari ini, Ulleri.

Menuju Hille, jalur trekking berupa jalan tanah di tepi jurang dengan sungai mengalir di bawahnya. Jalan naik-turun dan berkelok degan sinar matahari menyengat di atas kepala. Walau demikian kami cukup cepat melewatinya, berhubung stamina masih OK. Sebenarnya ada angkutan umum melalui jalur ini hingga Hille, sangat bisa untuk menghemat waktu, tapi karena angkutan ini tidak tentu jam berapa adanya, maka kami urungkan niat dan memilih jalan kaki.

Pukul 13.00 kami sampai di Hille, perut sudah berontak, tandanya harus berhenti dan makan siang. Plain rice dan egg omelet, menu sederhana yang selalu jadi andalan. Walaupun ada daging ayam yang bisa dipesan, tapi dengan alasan budget dan juga ke-halal-annya, maka kami setuju untuk benar-benar minimalis di urusan makan-memakan ini. Walau makanannya plain, tapi harus tetap ada yang istimewa, segelas black tea panas ditambahkan madu. Mungkin kelihatannya sepele, tapi ini luar biasa sekali untuk mengembalikan tenaga dan memperbaiki mood, terutama karena jalur yang akan kami lalui selanjutnya adalah yang paling berat untuk hari ini, jalur menanjak tanpa ampun menuju Tikhedhunga hingga Ulleri. Dan benar adanya, jalur ini memaksa kami break tiap 15 menit sekali. Walau sudah tertata berupa tangga batu yang memudahkan, tapi tetap saja 3 jam tanpa bonus datar ataupun turunan benar-benar menguras tenaga.

Mengingat sudah mulai gelap dan memang ngos-ngosan, sebuah guest house yang kami temukan tepat setelah memasuki gerbang desa Ulleri lansung kami iyakan saja. Eh tapi, tempat ini ternyata keren, mereka punya sebuah balkon menghadap lembah dengan view super menarik. Dan yang paling dibanggakan adalah, kami dapat gratisan menginap disini, hanya perlu memesan makan malam dan sarapan saja. Lumayan, menghemat budget.🙂

Resume Day 1 : Nayapul – Birethanti – Hille – Tikhedhunga – Ulleri

 

TREKKING  DAY 2

Kami bangun pagi-pagi, menikmati sarapan di balkon sembari menyambut mentari, ini benar-benar breakfast terbaik selama di Nepal. Bukan cuma ini satu-satunya alasan kami bangun pagi, tapi kami ingin segera mulai trekking karena target hari ke-2 ini cukup jauh. Kami harus mencapai Ghorepani dan menjemput sunrise di Poon Hill keesokan paginya. Setelah sarapan, 08.30, trekking berlanjut, target sebelum gelap harus sudah sampai Ghorepani. Trek hari ini sedikit beda dengan hari sebelumnya. Bila kemarin kepanasan, hari ini bakal masuk hutan. Berharap tidak ada pecet bertebaran.

Pukul 10.00 kabut mulai turun, udara sejuk ini memudahkan kami tancap gas. 11.50 kami sampai di desa Nangethanti. Perut keroncongan, pas banget dengan kehadiran tempat makan Hungry Eyes di awal desa. Setelah mengisi perut, walau kabut makin tebal, dan sepertinya mendung, kami tetap memutuskan untuk lanjut. 13.30 kami start ke tujuan akhir hari ini, Ghorepani.

Oiya, ada hiburan selama trekking di hutan ini. Adalah Laligurans (Rhododendron arboreum), tanaman yang bunganya dinobatkan sebagai bunga nasional Nepal ini memang banyak terdapat sepanjang rute trekking kami hari ini. Warna merahnya yang terlihat sangat mencolok membuat kami sedikit terlena karena sering jepret sana sini mengabadikan foto bunga ini. Hingga akhirnya kabut berganti hujan rintik, memaksa kami mempercepat langkah.

Menjelang sore, akhirnya kami sampai di Ghorepani bawah, tapi ini bukan tujuan kami, karena kami ingin lebih dekat ke Poon Hill jadi kami harus ke Ghorepani atas. Setengah berlari karena hujan semakin lebat kini kami kebingungan mencari tepat berteduh sekaligus untuk istirahat malam ini. Beruntung, seorang trekker dari China yang berpapasan dengan kami mengarahkan untuk bergabung dengan rombongan mereka di Snow View Lodge, penginapan di salah satu sudut jalan. Tak lagi pikir panjang karena hujan semakin deras disertai butiran-butiran es, kami langsug iyakan lodge ini. 200 NPR per night per orang.

Resume day 2: Ulleri – Nangethanti – Ghorepani

 

TREKKING DAY 3

Kami bangun agak telat, ini akibat kedinginan dan berlanjut susah tidur semalaman. Disaat penghuni lodge yang lainnya sudah berangkat, kami masih baru saja keluar selimut. Jam tangan menunjukan 05.15 pagi, kami bergegas menaiki bukit menuju view point di Poon Hill. Seharusnya pemandangan dari tempat ini luar biasa karena mengarah langsung ke deretan puncak-puncak Annapurna yang menjulang. Tapi sayang sepertinya cuaca sangat tidak bersahabat dengan kami pagi ini. Karena hujan lebat semalaman, pagi itu Poon Hill diselimuti kabut dan bahkan rintik hujan tidak juga berhenti. Pemandangan cantik Annapurna tak bisa dinikmati sempurna. Kami memutuskan untuk turun, dan segera bersiap untuk perjalanan selanjutnya. Berharap lain waktu kami ke sini lagi.

Poon hill
Poon hill

Setelah melahap banana pancake dan menghangatkan diri dengan segelas black tea tentu saja dengan tambahan madu, trekking kami lanjutkan dengan tujuan Chomrong. Cuaca yang tidak kunjung bersahabat benar-benar menguras tenaga. Bukan hanya air yang turun, tapi juga butiran-butiran es. Suhu udara turun drastis. Saya teringat nasihat pemilik lodge kami di Ghorepani untuk menunda perjalanan karena cuaca buruk. Tapi karena kami terikat jadwal ketat dan sudah kepalang basah, berbekal nyali kami tetap lanjut. Sepertinya tak ada trekker lain yang kami temukan sepanjang perjalanan hanya ada beberapa porter yang melintas. Di beberapa persimpangan jalan kami sering ragu-ragu untuk memilih jalur karena tidak ada petunjuk jalan dan tidak ada orang yang bisa ditanyai. Cukup beruntung pilihan kami selalu tepat, jadi tidak nyasar, hahaha.

Ghorephani - Tadapani
Ghorephani – Tadapani

Dengan cuaca seperti ini, perencanaan waktu kami kacau. Tadapani yang seharusnya sampai sebelum tepat tengah hari baru kami temukan di jam 15.30 sore. Dengan sisa-sisa tenaga kami sedikit mempercepat langkah walau jalur licin karena diburu waktu sebelum matahari tenggelam. Sampai akhirnya kami menyerah untuk mengejar Chomrong dan berhenti di Chuile.

Di Chuile kami bermalam di lodge yang sedikit ‘unik’, Hillside Lodege kalau tidak salah namanya. Dengan bangunan tua yang mungkin sudah lama tak direnovasi, ditambah tempelan dinding dan pintu berupa kertas mantra (mungkin) dengan huruf-huruf aneh membentuk lukisan yang lumayan seram membuat saya sedikit ragu untuk memilih tempat ini awalnya. Dan kami satu-satunya pengunjung di lodge ini,…OK bismillah, tetap positive thinking!

Tapi ternyata keluarga pemilik lodge ini sangat ramah, dan mungkin ini bisa dibilang keberuntungan kami, karena mereka punya tungku perapian yang sangat membantu. Tungku perapian biasanya ditempatkan di ruang makan. Orang-orang macam kami ini sangat bergantung dengan tungku ini untuk bertahan dari dinginnya udara luar. Pakaian kami yang basah akibat hujan seharian tadi pun bisa kami jemur di sebelah tungku ini. Selain itu, keuntungan jadi satu-satunya pengunjung adalah bisa bercengkrama dan mengobrol dengan pemilik lodge. Dengan se-sachet Tolak Angin sebagai pembuka percakapan (ternyata mereka suka dengan sensasi hangat di tenggorakan waktu kami tawarkan untuk mencoba), obrolan dengan bahasa tubuh inipun mengalir, walau sangat susah karena mereka kurang begitu mahir bahasa inggris. Mereka juga sempat menawarkan mengganti Tolak Angin tadi dengan daging panggang, yang untungnya bisa kami tolak karena bentuknya agak ‘mencurigakan’. Belakangan kami tau kalau itu tadi adalah daging ular bakar!

Saya sudah mulai lupa (sedikit) dengan kertas mantra yang tertempel di pintu kamar tadi…

Resume day 3: Ghorepani – Tadapani – Chuile

Chuile
Chuile

TREKKING DAY 4

08.00 kami mulai menuju Chomrong, untung kemarin kami tidak lanjut, ternyata Chuile ke Chomrong lumayan jauh dan menanjak. Tengah hari kami baru ketemu dengan Chomrong. Kami break untuk makan siang. Belum lama beranjak langit sudah berubah gelap, dan kami lagi-lagi stuck karena hujan. Setelah menunggu agak lama di Shinuwa, kami pun bergegas.

Sebenarnya tujuan akhir hari ini adalah Doban, tapi trekking di waktu hujan sungguh bukan hal mudah. Fisik cepat sekali terkuras dan trek berbahaya karena licin. Karenanya kami menghentikan langkah di Bamboo, dengan keadaan basah kami tanpa pikir panjang meng-iyakan Bamboo Lodge sebagai tempat kami bermalam. Sialnya kami tidak menanyakan apakah mereka punya tungku perapian, dan benar saja benda itu tidak kami temukan di tempat makan. Pakaian basah akhirnya cuma kami jemur di luar kamar, tentu saja tak akan bisa kering walau sampai besok pagi.

Resume Day 4: Chuile – Chomrong – Shinuwa – Bamboo

 

TREKKING Day 5

Kami memulai trekking hari ini lebih pagi, karena memang sudah behind schedule akibat cuaca dua hari belakangan. Kami menetapkan target Machapukhare Base Camp (MBC) untuk hari ini. Target yang buat saya pribadi agak mustahil, karena memang kemampuan fisik saya paling lemah diantara kedua teman saya. Mungkin hanya semangat saja yang membuat saya meng-iyakan keputusan ini. Hari ini cuaca sangat mendukung, cerah berawan. Keadaan yang sangat menolong kondisi saya. 

Tengah hari kami sampai di Himalaya Hotel yang jadi half day target, kami break dan makan siang disini. Ini lumayan mengangkat moral kami yang sempat pesimis pagi tadi. Tapi ujian sebenarnya adalah trek menuju MBC, karena dari yang kami dengar sempat turun salju tebal beberapa hari lalu dan adanya kemungkinan jalur tertutup longsoran salju.

Oiya, tempat break inicukup unik, Himalaya Hotel and Restaurant bukan sebuah desa seperti sebelum-sebelumnya dan memang tidak ada lagi desa di ketinggian ini. Makan siang di lembah gunung degan puncak tertutup salju abadi, keren sekali. Kami sudah benar-benar dekat dengan kaki gunung Machaphukare. Puncaknya yang mempunyai ketinggian 6993 mdpl berbentuk runcing dan terbelah 2, menyebabkan ia dinamai machapukare  yang juga berarti fish tail – ekor ikan. Machaphukare kabarnya tidak boleh lagi di daki karena ditetapkan sebagai ‘tempat suci’ oleh penduduk sekitar. Kami sendiri hanya berniat menyambangi base camp nya saja yang berada di ketinggian 3700 mdpl.

Trekking menuju MBC ini boleh jadi yang paling mengesankan bagi saya. Kami harus melewati tepian jurang bekas longsor salju dan membelah lembah dengan sungai gletser yang mengalir deras. Kabut tebal yang bisa tiba-tiba datang membuat kami harus menerka-nerka arah jalan setapak. Rasanya deretan kengerian jembatan gantung yang saya lewati kemarin tak ada apa-apanya dibanding trekking hari ini.

Setelah beberapa jam menyusuri lembah, akhirnya kelemahan fisik mulai berbicara. Saya kini berhenti tiap 10 menit sekali, kalau bukan karena tak mau menderita kedinginan di jalur ini, mungkin saya memilih lebih lama istirahat sambil menikmati pemandangan menakjubkan lembah Machaphukare. 16.30 sore kami sampai di MBC, alhamdulillah…

Malam ini walau capek kami tak mau buru-buru tidur. Obrolan di ruang makan dengan para pengunjung lodge ini sayang sekali untuk di lewatkan. Nampaknya lodge ini dipenuhi oleh orang-orang Jepang, Korea, China dan beberapa orang asia tenggara. Seorang kakek pengunjung lodge degan bahasa inggris terbata-bata mencoba mengobrol degan kami. Belakangan kami ketahui kalau kakek yang berumur sekitar 60-70an ini ternyata guru bahasa inggris di sebuah sekolah menengah di Jepang. Dengan umur yang tentunya tak lagi muda, saya kagum dengan fisik mereka yang masih mumpuni untuk trekking sampai ABC. Rahasiaya, katanya rutin naik sepeda 10 km tiap hari!

Semakin malam semakin dingin, walau kami tak terlalu merasakannya, ditambah lagi kami seakan lupa dingin itu karena keasikan ngobrol. Mendekati tengah malam kami ‘mengundurkan diri’ sekalian kabur karena si kakek menawarkan ‘sake’ untuk mengusir dingin dan kantuk demi melanjutkan obrolan. Besok masih ada ABC dan setelahnya kami harus langsung bergegas turun gunung.

Resume Day 5: Bamboo – Doban – Himalaya Hotel – MBC

 

TREKKING DAY 6

Dengan melawan dingin yang menembus jaket N***h F**e KW sewaan kami, pukul 06.00 kami beranjak menuju Annapurna Base Camp (ABC). Jalur benar-benar tertutup salju tebal. Batere HP dan kamera yang tiba-tiba drop rasanya membuktikan kalau ini benar-benar dingin. Memang tidak kami ukur berapa suhu pagi itu, tapi kami perkirakan sudah pasti ini dibawah 0 derajat celcius. Kami harus terus bergerak kalau tidak mau kedinginan. Karena memang masih cukup gelap, berbekal headlamp kami meraba-raba melihat bekas kaki yang menunjukkan jalur itu memang benar menuju ABC. Jarang ada yang mengawali trekking sepagi ini, karena beresiko tersesat dan terjerembab di salju. Untungnya cuaca cerah pagi itu.

Pelan-pelan sinar matahari mulai tampak, tapi masih tetap dingin. Dengan mulai terbitnya matahari, kami baru menyadari bahwa telah berjalan di tengah hamparan salju dikelilingi puncak-puncak Annapurna dan Machaphukare. Takjub sekaligus ngeri, merasa kecil dan sendirian di tengah megahnya puncak-puncak gunung ini.

Berjalan di ketinggian lebih dari 3700 mdpl dan diatas hamparan salju sungguh tidak mudah. Meski dengan jaket tebal rangkap 2, kupluk berlapis dan sarung tangan, nyatanya dingin masih juga menusuk. Makhluk-makhluk tropis macam kami ini kedinginan tapi harus terus melangkah. Oksigen yang terasa makin tipis karena faktor ketinggian juga benar-benar menguras tenaga. Sepertinya keputusan untuk meninggalkan semua barang (tas ransel 60 L beserta seluruh isinya) di MBC tadi sungguh sangat tepat. Kami hanya membawa tas kecil berisi air mineral secukupnya dan madu untuk menemani 2 jam perjalanan menuju ABC.

Dan akhirnya, setalah perjalanan panjang hampir 6  hari berjalan kaki, 2 April 2015, pukul 8 pagi, kami sampai di ABC. Saya keluarkan bendera Merah Putih yang sengaja saya bawa dari Indonesia dan berfoto di depan papan Welcome to Annapurna Base Camp. Bangga sekali bisa sampai disini. Tak pernah terbayang sebelumnya saya bisa sampai di pegunungan Himalaya. Hari ini impian saya untuk ketemu salju sekaligus trekking di Nepal langsung dikabulkan bersamaan. Syukur Alhamdulillah. Saya sampai di tempat tertinggi yang pernah saya tempuh dengan berjalan kaki, 4,130 mdpl!

*click to enlarge image

Tepat tengah hari kami segera turun dari ABC menuju Bamboo. 16.30 kami selamat sampai di Bamboo tepat sebelum hujan mengguyur.

Resume Day 6: MBC – ABC – Doban – Bamboo

 

TREKKING DAY 7

08.20 start dari Bamboo dengan tujuan Landruk, sembari berharap besok pagi ada angkutan (Jeep) dari sana ke Pokhara. Target sampai sebelum gelap. Sepanjang perjalanan hujan terus mengguyur, tapi bukan itu yang membuat berat perjalanan, karena sejak beberapa hari ini kami sudah mulai terbiasa dengan hujan. Dengkul saya yang mulai kelelahan akhirnya berontak. Sebenarnya ini sudah mulai terasa sejak saya turun dari MBC kemarin, tapi sengaja tak saya hiraukan. Tapi untuk hari ini rasanya tak bisa diabaikan lagi. Tiap kali menapaki tangga batu rasanya dengkul mau copot. Saya sungguh menyayangkan ide pembuatan tangga batu ini. Karena menurut saya jalan tanah yang miring lebih bersahabat dengan dengkul ketimbang undak-undakan tangga batu. Masalahnya, sepanjang Bamboo, Chomrong, New Bridge hingga Landruk dipenuhi dengan tangga batu curam! Counterpain dan koyok-lah yang akhirnya saya andalkan di dengkul kiri dan kanan agar saya terus bisa melangkah (baca:menyeret) meski pelan-pelan. Saya berterimakasih kepada dua teman saya karena tidak complain dan terus bersabar karena saya berjalan sangat amat pelan. Tentu saja ini berakibat pada schedule, sedikit molor, walau akhirnya kami sampai di Landruk pukul 17.15 saat hampir menjelang malam.

Resume Day 7: Bamboo – Chomrong – New Bridge – Landruk

 

TREKKING DAY 8

Transportasi dari Landruk - Phokara
Transportasi dari Landruk – Phokara

Hari terakhir di gunung, kali ini tidak akan kami gunakan untuk trekking. Selain karena alasan dengkul saya, kami ingin menghemat waktu. Kebatulan pula hari ini ada angkutan, semacam Jeep gitu, yang turun menuju Phokara. Mobil ankutan ini mirip off road jeep 4WD-double gardan. Karenanya dia santai saja melibas jalanan tanah dan berbatu di pinggiran jurang. Dari awalnya takjub campur ngeri-ngeri sedap sampai akhirnya bosan dan berujung mual, mabok. Jeep terus bergoncang tanpa ampun hingga lebih dari 3 jam sampai akhirnya kami ketemu jalan ber-aspal pas disaat saya sudah hampir jackpot.

Sekitar jam 3 sore kami sampai di Phokara. Setelah mondar-mandir mencari penginapan akhirnya kami temukan hostel murah di ujung gang di kawasan Lake Side. Hanya 600 NPR per malam untuk 3 orang. Ini murah sekali, dengan fasilitas 1 king bed dan 1 standard bed, beserta air panas di kamar mandinya cukup menghibur badan yang lelah…terimakasih Mountain Dream Hostel yang sudah mau ditawar harga kamarnya,🙂

Saatnya menikmati foto-foto dan video perjalanan ke ABC sambil mengistirahatkan dengkul…

Baytheway, kapan mau ke ABC juga?

2 thoughts on “8 Hari Trekking Annapurna Base Camp (ABC) via Poon Hill

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s